Kabayan Tech Kabayan Tech
/home / ai / Saham AI Terbaik: Mengapa Nvidia...
AI

Saham AI Terbaik: Mengapa Nvidia Layak Dibeli Saat Harganya Turun

Ilustrasi chip prosesor GPU Nvidia untuk teknologi kecerdasan buatan AI

Ilustrasi chip prosesor GPU Nvidia untuk teknologi kecerdasan buatan AI

Investasi di bidang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) masih menjadi tema sentral di pasar saham global saat ini. Namun, berdasarkan pantauan redaksi, beberapa pemain utama di sektor teknologi ini justru menunjukkan performa yang kurang memuaskan dalam beberapa waktu terakhir. Salah satu raksasa teknologi yang mengalami tekanan adalah Nvidia, di mana harga sahamnya tercatat melorot lebih dari 16 persen dari rekor tertinggi sepanjang masa yang pernah dicapainya.

Berdasarkan data pasar terbaru, saham Nvidia dengan kode emiten NVDA hanya mencatatkan kenaikan sekitar 6 persen sepanjang tahun ini. Angka pertumbuhan tersebut terpantau masih tertinggal jika dibandingkan dengan penguatan indeks S&P 500 yang berhasil tumbuh hampir 9 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa performa Nvidia sempat kalah bersaing dengan instrumen investasi paling mendasar di pasar saham Amerika Serikat.

Meski demikian, pengamatan tim redaksi menunjukkan adanya potensi besar bagi saham Nvidia untuk segera berbalik arah menuju tren positif. Perusahaan ini dinilai masih berdiri kokoh di pusat ekosistem pembangunan infrastruktur AI global. Dengan potensi pertumbuhan masif yang sudah berada di depan mata, koreksi harga yang terjadi saat ini justru dinilai sebagai momentum yang tepat bagi para investor untuk melakukan aksi beli.

Nvidia memproduksi graphics processing units (GPU) serta ekosistem pendukung yang menjadi pilihan utama untuk menyuplai daya pemrosesan AI sejak perlombaan teknologi ini dimulai pada tahun 2023. Menurut analisis para pakar mikrochip, produk Nvidia tetap menjadi yang terbaik di kelasnya. Kehadiran arsitektur generasi terbaru mereka yang bernama Rubin, yang kini mulai dikirimkan ke pelanggan, diproyeksikan akan mendorong pertumbuhan pendapatan perusahaan lebih jauh berkat peningkatan kemampuan yang sangat signifikan.

Di sisi lain, Nvidia diprediksi akan terus mendominasi pasar komputasi terakselerasi karena pertumbuhannya yang jauh lebih cepat dibandingkan dengan para pesaing GPU lainnya. Di samping itu, kompetitor berupa chip ASIC memiliki keterbatasan desain yang membuatnya hanya berguna untuk rentang aplikasi yang sempit, sehingga tidak sekfleksibel produk besutan Nvidia.

Berdasarkan laporan perkiraan industri, kue industri pembangunan AI global juga dipastikan akan semakin membesar. Tahun ini, empat raksasa penyedia layanan cloud atau hyperscaler global diperkirakan akan menggelontorkan belanja modal hingga mencapai 650 miliar dolar AS. Berdasarkan proyeksi internal Nvidia, angka fantastis tersebut diperkirakan akan terus melonjak hingga melampaui 1 triliun dolar AS pada tahun depan.

Menurut proyeksi jangka panjang Nvidia, belanja modal pusat data global tahunan akan menyentuh angka 3 triliun hingga 4 triliun dolar AS pada akhir dekade ini. Dari pengamatan redaksi, jika perkiraan tersebut akurat, maka peluang besar akan tercipta bagi semua perusahaan di sektor ini. Hal ini berarti Nvidia tetap akan menjadi investasi yang luar biasa menguntungkan bahkan jika mereka harus kehilangan sebagian kecil pangsa pasarnya.

Alasan utama mengapa Nvidia disebut sebagai saham AI terbaik untuk dikoleksi saat ini bermuara pada faktor valuasi. Saat ini, Nvidia diperdagangkan pada rasio harga terhadap pendapatan masa depan atau forward PE ratio yang hampir sama dengan rata-rata indeks S&P 500. Dengan kata lain, saham ini dihargai sama seperti saham rata-rata pasar, padahal pertumbuhan yang sangat kuat masih membayangi kinerja perusahaan pada tahun depan, yang berarti ada potensi keuntungan atau upside yang sangat besar bagi investor.

// TOPICS
#nvidia #saham_ai #kecerdasan_buatan #investasi_teknologi #pasar_saham #s&p_500 #chip_komputasi
Jurnalis Teknologi Senior - AI & Software Development

Cici Puspasari adalah jurnalis teknologi ternama dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di dunia teknologi digital. Spesialisasi dalam kecerdasan buatan, machine learning, dan pengembangan perangkat lunak. Mantan pengembang perangkat lunak yang beralih menjadi jurnalis untuk menyampaikan kompleksitas teknologi dengan cara yang mudah dipahami. Telah meliput berbagai konferensi teknologi global seperti Google I/O, Apple WWDC, dan Microsoft Build.