Bagi para pekerja yang rutin menghabiskan waktu berjam-jam untuk berinteraksi dengan berbagai asisten kecerdasan buatan (AI), mengetik perintah pada papan ketik secara terus-menerus dapat dengan cepat menjadi pekerjaan yang menjemukan. Hal ini memicu gelombang baru dalam pemanfaatan teknologi suara di lingkungan kantor modern.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Menurut Chris Patalano, chief technology officer di Thumbtack, aktivitas mengetik dalam menyusun dokumen, pemrograman, atau merancang strategi terasa sangat menyita waktu. Menanggapi kendala tersebut, perusahaan lokapasar daring tersebut mulai bereksperimen dengan alat dikte berbasis AI yang dikembangkan oleh sejumlah perusahaan rintisan seperti Monologue, Superwhisper, Willow Voice, dan Wispr.
Berdasarkan pantauan redaksi, berbeda dengan aplikasi dikte generasi terdahulu yang hanya menyalin kata per kata, alat modern ini mengandalkan model bahasa besar (LLM). Teknologi ini mampu menyaring gangguan bicara seperti "umm" atau "ahh" dan langsung menghasilkan kalimat yang rapi serta terstruktur dalam hitungan milidetik.
Dari pengamatan tim redaksi, setelah sukses melakukan proyek uji coba berskala kecil, Thumbtack kini menyediakan aplikasi Wispr Flow untuk lebih dari 200 staf TI dan teknik mereka. Alat tersebut kini menjadi antarmuka utama yang digunakan karyawan untuk menyusun pesan di Slack hingga mengeksplorasi basis kode pemrograman.
Kendati menjanjikan kecepatan mengetik hingga tiga kali lipat, pengamat industri mencatat adanya tantangan perilaku seperti rasa canggung berbicara sendiri di ruang kantor yang ramai serta masalah privasi data. Namun, para ahli meyakini bahwa seiring meningkatnya akurasi LLM, interaksi berbasis suara ini berpotensi besar menjadi standar baru di masa depan.