Perusahaan penyedia layanan perangkat lunak (SaaS) Asana (ASAN) tercatat telah kehilangan lebih dari 40 persen nilainya sepanjang tahun berjalan ini. Angka tersebut berbanding terbalik dari masa pandemi ketika sahamnya sempat menyentuh angka di atas 100 dolar AS per lembar. Meski sebagian investor melihat penurunan harga ini sebagai peluang beli, kondisi fundamental perusahaan saat ini menunjukkan sebaliknya.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan analisis laporan keuangan terbaru, produk utama Asana yang berfokus pada platform manajemen kerja berbasis kecerdasan buatan (AI) mengalami perlambatan pertumbuhan. Pendapatan perusahaan hanya tumbuh 9,5 persen secara tahunan pada kuartal pertama tahun fiskal 2027 yang berakhir 30 April lalu. Angka ini menunjukkan penurunan tren jika dibandingkan dengan pertumbuhan di atas 20 persen pada tahun fiskal 2024.
Menurut Chief Financial Officer Asana, Aziz Megji, perusahaan sebenarnya mencatatkan momentum positif dalam adopsi produk berbasis AI. Namun, dari pantauan redaksi, tidak semua saham yang berkaitan dengan AI otomatis menjadi pemenang di pasar. Asana sendiri hanya memproyeksikan pertumbuhan pendapatan maksimal 9,2 persen untuk kuartal kedua dan keseluruhan tahun fiskal 2027.
Pengamatan tim redaksi menunjukkan bahwa Asana juga menghadapi kendala besar dalam menentukan harga pasar akibat ketatnya kompetisi. Perusahaan harus bersaing ketat dengan Atlassian yang memiliki produk Trello dan Jira, serta raksasa teknologi asal Amerika Serikat lainnya seperti Microsoft dengan Microsoft Planner dan Alphabet dengan ekosistem Google Sheets.
Pesaing utama mereka, Atlassian, bahkan mencatatkan pertumbuhan yang jauh lebih pesat sebesar 32 persen secara tahunan pada kuartal ketiga tahun fiskal 2026. Menurut data tersebut, keterbatasan Asana dalam menaikkan harga di tengah kepungan raksasa teknologi diprediksi akan menahan profitabilitas jangka panjang perusahaan, sehingga investor diimbau untuk tetap berhati-hati.