iPhone dikenal sebagai salah satu ponsel pintar terbaik di pasar global saat ini. Bahkan ketika seseorang memutuskan untuk membeli iPhone bekas atau model yang telah berusia beberapa tahun, performanya kerap kali dinilai masih lebih unggul dibandingkan dengan banyak ponsel Android kelas menengah. Kendati demikian, langkah membeli perangkat Apple berstatus bekas pakai tetap memiliki sejumlah kerugian yang signifikan. Pembeli berisiko tidak lagi mendapatkan pembaruan sistem operasi iOS, menghadapi penuaan perangkat keras yang lebih cepat, serta sulit memercayai pasar ponsel rekondisi karena asal-usul perangkat yang tidak jelas.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan analisis industri, faktor-faktor tersebut berpotensi membuat ponsel yang awalnya tampak murah menjadi jauh lebih mahal dalam jangka panjang. Sebagai contoh, jika konsumen tidak sengaja mendapatkan perangkat yang menggunakan suku cadang palsu, mereka terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk membeli komponen pengganti yang asli. Menurut kebijakan terbaru, Apple kini memperketat penggunaan suku cadang tiruan pada perangkat baru, di mana setiap komponen internal memerlukan validasi langsung dari pihak perusahaan, bahkan jika perbaikan dilakukan di bengkel pihak ketiga.
Melalui laporan bgr.com, jurnalis teknologi José Adorno menyatakan bahwa dirinya tidak pernah menyarankan pembelian perangkat bekas ketika seseorang meminta rekomendasi iPhone terbaik dengan harga paling terjangkau. Menurutnya, pilihan terbaik adalah membeli model terbaru yang sesuai dengan anggaran yang dimiliki guna memastikan ponsel dapat bertahan lebih lama sebelum mengalami gangguan teknis. Salah satu kerugian mutakhir saat ini adalah keterbatasan dukungan fitur cerdas. Sebagai contoh, iPhone 15 versi standar yang dirilis pada tahun 2023 kini menjadi model terbaru yang justru tidak mendukung Apple Intelligence, karena fitur kecerdasan buatan tersebut memerlukan spesifikasi minimum iPhone 15 Pro atau model yang lebih baru.
Dari pantauan redaksi, kepastian masa pakai pembaruan perangkat lunak Apple juga tidak dapat diprediksi secara mutlak. Meski Apple umumnya menyediakan pembaruan versi besar hingga tujuh tahun, pembatasan mendadak kerap terjadi. Pada pembaruan watchOS 27, misalnya, dukungan dihentikan untuk beberapa model jam tangan pintar yang baru berusia empat tahun. Hal serupa berlaku untuk lini ponsel, di mana sistem operasi masa depan seperti iOS 27 dikabarkan hanya akan mempertahankan dukungan paling maksimal hingga seri iPhone 11 yang dirilis pada tahun 2019 silam.
Kerugian lain yang tidak kalah besar menyangkut performa perangkat keras yang kian usang. Apple secara konsisten meningkatkan efisiensi prosesor dan daya tahan baterai pada setiap generasi terbarunya. Pada lini iPhone 17 Pro, perusahaan bahkan menerapkan sistem pendingin ruang uap (vapor chamber) untuk mengoptimalkan suhu kerja prosesor. Dari aspek kapasitas penyimpanan, standar minimal kini telah meningkat. Jika iPhone 17 mengusung kapasitas dasar sebesar 256GB, model lama seperti iPhone 12 atau iPhone SE generasi ketiga dari tahun 2022 mungkin hanya memiliki kapasitas 64GB, sebuah ukuran yang dinilai sudah tidak praktis untuk standar kebutuhan tahun 2026.
Selain masalah teknis, hilangnya jaminan perlindungan menjadi risiko yang tak terhindarkan. Apple menyediakan garansi universal gratis selama satu tahun untuk setiap produk baru di seluruh wilayah. Namun, bagi konsumen yang membeli iPhone bekas, besar kemungkinan masa garansi asli tersebut telah kedaluwarsa. Situasi ini diperparah dengan fakta bahwa Apple hanya memberikan batas waktu 60 hari setelah pembelian unit baru untuk menambah layanan proteksi AppleCare+. Tanpa adanya garansi atau AppleCare+, pengguna harus bersiap menghadapi biaya perbaikan mandiri yang sangat tinggi jika terjadi kerusakan.
Menurut daftar tarif resmi Apple, biaya servis untuk perangkat modern tergolong sangat mahal. Sebagai ilustrasi, pada perangkat iPhone 17 Pro Max, biaya penggantian baterai dipatok mulai dari $119, perbaikan layar retak mulai dari $379, bahkan biaya perbaikan menyeluruh untuk kerusakan berat bisa mencapai $799. Anggaran tambahan ini tentu akan melenyapkan keuntungan harga murah yang didapatkan di awal pembelian ponsel bekas.
Berdasarkan pengamatan tim redaksi di sejumlah pasar daring publik seperti Facebook Marketplace, risiko penipuan berkedok harga murah juga sangat tinggi bagi konsumen awam. Melalui foto produk, sangat sulit untuk mendeteksi cacat kosmetik minor, keaslian aksesoris internal, atau keberadaan perangkat lunak berbahaya (malware) yang mengincar data pribadi. Oleh karena itu, para ahli menyarankan calon pembeli untuk meminta foto layar yang menampilkan nomor seri resmi perangkat guna melacak validitas garansi, status pembaruan, hingga memastikan bahwa ponsel tersebut bukan barang hasil pencurian.
Terakhir, masalah kesehatan baterai menjadi keluhan yang paling sering dihadapi oleh para pembeli perangkat bekas. Dalam kurun waktu satu tahun, kapasitas baterai iPhone baru secara alami akan menyusut hingga 10 persen dari kapasitas aslinya. Jika membeli perangkat yang sudah berusia beberapa tahun, pengguna dipastikan harus segera melakukan penggantian komponen baterai dengan estimasi biaya berkisar antara $89 untuk model lawas seperti iPhone 11 hingga $119 untuk model-model yang lebih baru. Menolak mengganti baterai yang sudah usang hanya akan mengakibatkan penurunan performa sistem secara keseluruhan atau mati mendadak sebelum indikator daya menyentuh angka nol persen.