Porsi perdagangan dari para pedagang proprietary (prop shops) pada omzet derivatif ekuitas telah merosot ke level terendah dalam hampir empat tahun di National Stock Exchange of India Ltd. Berdasarkan pantauan redaksi, penurunan ini terjadi seiring dengan masalah pada mekanisme lelang penutupan serta semakin ketatnya lingkungan perdagangan yang membatasi ruang gerak pelaku pasar profesional.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan data bursa yang dihimpun, porsi mereka turun menjadi 54,7 persen dari total omzet harian berjangka dan opsi (futures and options) senilai 193 triliun rupee pada bulan Agustus lalu. Angka tersebut merupakan level terendah sejak Desember 2022, di mana proporsi sebelumnya sempat berada di kisaran 62 persen pada November 2024 ketika regulator pasar memperkenalkan aturan pembatasan ketat untuk menekan perdagangan spekulatif.
Sistem lelang penutupan dilaporkan kesulitan menarik minat pelaku pasar yang memadai sejak diluncurkan pada tanggal 3 Agustus lalu. Tipisnya likuiditas yang dihasilkan telah memperparah volatilitas harga pada instrumen ekuitas tunai maupun kontrak derivatif, sehingga menekan aktivitas meja perdagangan profesional. Selain itu, jendela waktu 20 menit dan mekanisme harga tunggal turut membatasi peluang strategi penciptaan pasar (market-making) dan arbitrase.
Menurut Chief Executive Officer dari perusahaan riset HST Wealth, Hariselvan Radhakrishnan, "Hari-hari di mana meja prop mendominasi omzet opsi NSE sudah berakhir." Ia menjelaskan bahwa pembatasan regulasi terhadap kontrak mingguan, aturan bank sentral yang lebih ketat terkait leverage, serta pengawasan ketat telah membuat strategi perdagangan bervolume tinggi menjadi jauh lebih mahal untuk dijalankan di India.
Dari pengamatan tim redaksi, tren mundurnya para pedagang proprietary ini juga terlihat jelas di pasar ekuitas tunai, di mana posisi mereka mulai tergeser oleh investor ritel. Porsi omzet perdagangan mereka tercatat turun 172 basis poin secara bulanan pada bulan Agustus, sementara pangsa pasar investor ritel justru meningkat sebesar 53 basis poin menjadi 33,5 persen menurut data resmi bursa.
Menanggapi gejolak tersebut, Securities and Exchange Board of India pada tanggal 12 September lalu telah mengusulkan sejumlah perubahan kerangka kerja, termasuk potensi kembalinya metode lama untuk penyelesaian derivatif pada hari kedaluwarsa guna meredam lonjakan harga yang ekstrem. Regulator saat ini telah membuka kesempatan bagi publik untuk memberikan tanggapan dan masukan hingga tanggal 3 Oktober mendatang.