Pembangunan fasilitas pusat data atau data center kini semakin marak di berbagai wilayah, namun fasilitas ini memicu kekhawatiran akibat konsumsi air dan listrik yang sangat tinggi. Berdasarkan pantauan tim redaksi, kehadiran fasilitas modern ini kerap menyebabkan lonjakan tagihan listrik bagi warga sekitar serta memicu pertanyaan besar mengenai efisiensi energi yang berkelanjutan. Di tengah surplus energi surya yang melimpah di beberapa kawasan seperti Eropa, muncul gagasan untuk mengintegrasikan tenaga matahari guna memenuhi pasokan listrik industri teknologi yang kian melonjak.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Namun, realisasi pusat data berbasis tenaga surya ternyata menghadapi tantangan skala yang luar biasa besar. Menurut analisis industri, sebuah pusat data kecerdasan buatan di era gigawatt saat ini membutuhkan hingga tiga juta panel surya untuk memenuhi seluruh kebutuhan operasionalnya. "Pemasangan panel surya di atap gedung pusat data hanya bagaikan setetes air di lautan jika dibandingkan dengan total daya yang dikonsumsi oleh fasilitas tersebut," ujar para pengamat teknologi.
Kendala utama dalam mewujudkan fasilitas mandiri energi ini adalah kebutuhan ruang dan lahan yang masif. Berdasarkan pengamatan tim redaksi, sebuah pusat data tenaga surya setidaknya memerlukan ladang surya seluas 1.500 hektar untuk menampung ratusan ribu hingga jutaan panel. Di sisi lain, ekspansi pusat data ke wilayah pedesaan sering kali memicu gesekan sosial dengan masyarakat lokal yang merasa terganggu oleh alih fungsi lahan dan lonjakan biaya hidup.
Meskipun demikian, adopsi energi surya secara parsial terus menunjukkan tren peningkatan di kalangan korporasi teknologi global. Menurut data survei yang dilaporkan oleh Sunhub, sebanyak 38 persen perusahaan teknologi berencana memasang susunan fotovoltaik di fasilitas mereka sebagai bagian dari komitmen penurunan emisi karbon. Kendati demikian, tantangan terbesar tetap terletak pada keterbatasan infrastruktur penyimpanan baterai yang belum mampu mendukung operasional fasilitas secara penuh selama 24 jam penuh tanpa pasokan jaringan konvensional.