Langkah perusahaan kecerdasan buatan Anthropic yang menawarkan akses gratis ke model terbaru mereka, Claude Fable, bagi pelanggan berbayar hingga tanggal 19 Juli memicu sorotan tajam dari para ahli. Dari pantauan redaksi, strategi pemberian akses gratis ini diduga kuat sebagai taktik terselubung untuk membuat pengguna ketergantungan sebelum akhirnya dialihkan menjadi pelanggan berbayar dengan tarif penuh.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan rencana perusahaan, setelah masa akses gratis berakhir, Anthropic akan mengubah sistem penggunaan Fable menjadi model bayar per penggunaan. Biaya yang dibebankan tergolong fantastis, yakni mencapai 10 dolar AS per satu juta token input dan 50 dolar AS untuk satu juta token output. Tarif tersebut tercatat dua kali lipat lebih mahal dibandingkan dengan model tercanggih mereka sebelumnya, Opus 4.8.
Menurut Sanchit Vir Gogia, analis utama di Greyhound Research, perpanjangan akses gratis yang dilakukan Anthropic menunjukkan bahwa vendor tersebut sebenarnya belum mengetahui secara pasti nilai jual dari produk unggulan mereka. "Vendor yang percaya diri dengan harganya tidak akan memindahkan batas waktu yang sama sebanyak dua kali dalam enam hari, dan keduanya dilakukan di saat-saat terakhir," ujar Gogia saat menganalisis keputusan tersebut.
Dari pengamatan tim redaksi, penundaan tenggat waktu ini dimanfaatkan Anthropic untuk menguji keandalan produk mereka secara langsung di pasar. Di sisi lain, para pengguna diuntungkan karena dapat menyelesaikan tugas-tugas paling rumit menggunakan Fable tanpa biaya tambahan selama masa uji coba berlangsung. Sejauh ini, Anthropic belum memberikan komentar resmi terkait situasi penentuan harga tersebut.
Perjalanan Claude Fable sendiri sempat mengalami sandungan sejak resmi diluncurkan pada 9 Juni lalu. Hanya berselang tiga hari, Pemerintah Amerika Serikat langsung memberlakukan kontrol ekspor setelah para peneliti dari Amazon menemukan celah keamanan. Celah tersebut memungkinkan Fable mengidentifikasi kerentanan perangkat lunak dan mendemonstrasikan eksploitasi cyber, sebelum akhirnya dirilis ulang pada 1 Juli setelah perbaikan.
Persaingan di industri AI semakin memanas menyusul peluncuran model terbaru OpenAI bernama ChatGPT 5.6 Sol pada 9 Juli. Model kompetitor ini menawarkan harga yang jauh lebih agresif dan ekonomis, yakni sebesar 5 dolar AS per satu juta token input dan 30 dolar AS per satu juta token output.
Menurut Jack Gold, analis utama di J. Gold Associates, Anthropic dan OpenAI saat ini sedang bersaing agresif untuk membangun pangsa pasar yang masif. "Anthropic dan OpenAI sama-sama berencana untuk melantai di bursa saham, dan memiliki lebih banyak pengguna akan membuat mereka terlihat menarik di mata investor, meskipun saat ini belum menghasilkan keuntungan," kata Gold mengungkapkan.
Berdasarkan analisis para pakar teknologi, strategi yang digunakan oleh kedua raksasa AI ini mengikuti jalur lama yang pernah diterapkan oleh Meta, Google, dan Microsoft. Perusahaan-perusahaan teknologi tersebut kerap memberikan penawaran gratis pada tahun-tahun awal untuk menarik basis massa, yang kemudian secara bertahap diubah menjadi produk berbayar.
Kendati penawaran token gratis dari vendor besar ini terlihat menggiurkan, sejumlah ahli memperingatkan korporasi agar tidak terjebak dalam ekosistem tunggal. Perusahaan diimbau untuk mendiversifikasi pengembangan AI mereka di beberapa vendor dan komputasi awan yang berbeda, serta mulai mengadopsi model sumber terbuka (open-source) demi keamanan jangka panjang.
Di sisi lain, persaingan teknologi semakin ketat setelah Cursor dan SpaceXAI meluncurkan Grok 4.5 pada 8 Juli. Model tersebut diklaim mampu menangani tugas-tugas rumit jangka panjang seperti rekayasa perangkat lunak dan analisis keuangan, dengan harga yang jauh lebih murah yaitu 2 dolar AS per satu juta token input.
Meskipun harga token Fable terbilang tinggi, Max Leaming selaku kepala sains data dan solusi AI di ManpowerGroup menilai model ini bisa jadi tetap efisien. "Meskipun biaya per token naik, kita mungkin akan melihat pengeluaran keseluruhan menurun karena model ini bekerja jauh lebih cepat dan mengurangi waktu komputasi," tutur Leaming mengakhiri.