Gelombang adopsi kecerdasan buatan (AI) di sektor korporasi kini memicu persaingan ketat antara laboratorium AI raksasa dan perusahaan konsultan besar. Berdasarkan pantauan redaksi, sejumlah perusahaan kini mulai melirik konsultan butik yang berskala lebih kecil karena dinilai memiliki fleksibilitas tinggi dan efisiensi kerja yang lebih baik dalam penyerapan teknologi baru ini.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Salah satu firma yang memanfaatkan momentum ini adalah 28Stone Consulting, sebuah konsultan teknologi asal New York yang berfokus pada pasar modal dengan kekuatan 230 personel. Menurut pendiri perusahaan tersebut, Thomas Dolan dan Frank Erickson, keberadaan agen AI di pasar vertikal tidak bisa diterapkan dengan metode satu ukuran untuk semua (one-size-fits-all), melainkan membutuhkan disiplin serta keterlibatan keahlian manusia yang mendalam guna memitigasi risiko kegagalan.
Banyak perusahaan besar dilaporkan masih kesulitan dalam mengoperasikan agen AI secara mandiri tanpa arahan yang tepat. Dari pengamatan tim redaksi, fenomena "vibe coding" atau sekadar mengandalkan intuisinya saja dinilai merugikan karena ada perbedaan besar antara pemrograman eksperimental dengan pengembangan perangkat lunak skala enterprise yang membutuhkan struktur ketat.
Frank Erickson menambahkan bahwa ketergantungan pada teknologi canggih tanpa kontrol manusia justru bisa mengarahkan proyek ke jalur yang salah dengan sangat cepat. Pihaknya menegaskan bahwa integrasi antara keahlian industri dan teknis tetap menjadi aspek utama yang tidak boleh dihilangkan dari rantai pengerjaan meskipun proses penulisan kode atau pengujian sistem sudah dibantu oleh mesin.
Berdasarkan wawancara tersebut, kehadiran AI global diprediksi akan mengubah lanskap ekonomi bagi konsultan kecil dalam bersaing dengan raksasa industri seperti Accenture. Melalui pemanfaatan AI yang terukur, skala sebuah firma konsultan tidak lagi diukur dari jumlah kepala atau karyawan, melainkan dari volume dan kualitas output pekerjaan yang dihasilkan bagi klien.