Penggunaan energi terbarukan seperti tenaga surya telah menjadi salah satu cara terbaik untuk mengurangi jejak karbon sekaligus menekan biaya utilitas bulanan yang terus meningkat. Berdasarkan pantauan redaksi, banyak pemilik rumah yang mulai mempertimbangkan transisi energi bersih ini untuk memenuhi seluruh kebutuhan listrik rumah tangga mereka secara mandiri.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Secara teknis, sebuah rumah dapat beroperasi sepenuhnya dengan tenaga surya, terutama jika berada di lokasi terpencil atau menggunakan sistem mandiri (off-grid). Namun, untuk mewujudkannya, diperlukan solusi penyimpanan baterai yang andal atau memanfaatkan skema net metering untuk menjual kelebihan listrik kembali ke jaringan publik.
Berdasarkan aturan regulasi kelistrikan dan kode bangunan, terdapat beberapa ketentuan teknis yang harus diperhatikan, seperti aturan beban struktural atap, aturan kapasitas daya panel, serta panduan efisiensi jangka panjang. Dari pengamatan tim redaksi, pemasangan sistem off-grid sepenuhnya di atap rumah juga sering kali terkendala oleh batasan struktural dan regulasi lokal yang berlaku.
Menurut perhitungan biaya, sistem tenaga surya mandiri atau off-grid umumnya menelan biaya yang jauh lebih mahal dibandingkan dengan sistem terhubung jaringan grid biasa. Biaya instalasi sistem mandiri dapat mencapai kisaran puluhan ribu dolar karena pemilik rumah harus menanggung seluruh pembelian peralatan secara mandiri tanpa adanya subsidi atau kredit tambahan.
Selain faktor biaya, kondisi geografis, lokasi, dan iklim setempat turut memengaruhi tingkat efisiensi serta masa pakai perangkat panel surya. Oleh karena itu, sebelum memutuskan beralih ke 100 persen tenaga surya, pemilik rumah perlu melakukan perencanaan matang agar investasi yang dikeluarkan dapat memberikan hasil yang optimal.