Harga minyak mentah jenis Brent kembali merangkak naik melampaui 100 dolar AS per barel akibat meningkatnya kekhawatiran atas eskalasi konflik yang terus meluas di kawasan Timur Tengah. Berdasarkan pantauan redaksi dari program ABC Business Daily, situasi ini memicu kekhawatiran global yang turut berdampak langsung pada perekonomian di Australia, termasuk lonjakan harga bahan bakar minyak seperti diesel.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Dalam diskusi ekonomi pekan ini, editor bisnis ABC Michael Janda menjelaskan bahwa ketegangan yang melibatkan kelompok Houthi di Yaman serta gangguan pada jalur pelayaran strategis turut memperparah krisis energi global. "Ketidakpastian yang besar ini membuat harga kontrak berjangka minyak terus melonjak tinggi akibat ancaman kekurangan pasokan fisik di pasar internasional," ujar Michael Janda.
Menurut pengamatan tim redaksi, dampak krisis energi ini juga diperparah oleh serangan terhadap fasilitas penyulingan di Rusia yang mengganggu rantai pasokan diesel global. Di Australia sendiri, harga diesel kini dilaporkan mendekati level 3 dolar per liter, memicu tekanan biaya hidup yang signifikan bagi masyarakat dan pelaku bisnis lokal.
Di tengah tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi tersebut, para analis dari empat bank besar di Australia sepakat bahwa langkah pengetatan moneter lanjutan tidak dapat dihindari. Menurut proyeksi pasar saat ini, kenaikan suku bunga dari Reserve Bank of Australia pada bulan September terlihat semakin mungkin terjadi guna meredam dampak kenaikan harga terhadap perekonomian domestik.