Sejarah tampaknya memiliki cara tersendiri untuk mengulang dirinya sendiri, dan krisis RAM yang terjadi saat ini bukanlah sebuah masalah yang sepenuhnya baru. Pada akhir tahun 1980-an, masyarakat terpantau membeli komputer pribadi dalam jumlah yang sangat besar, yang berarti produsen PC harus memesan lebih banyak pasokan RAM. Namun, berdasarkan pantauan redaksi, permintaan pasar terhadap PC akhirnya melambat dan meninggalkan surplus inventaris yang besar bagi para produsen, termasuk cip ekstra yang gagal terpasang di dalam komputer.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Pergeseran antara penawaran dan permintaan ini memicu efek domino yang berujung pada penurunan produksi. Ketika permintaan kembali menyusul tingkat pasokan, harga RAM langsung melonjak tajam. Sama seperti saat ini yang bukan merupakan waktu ideal untuk membeli komputer atau konsol gim baru, situasi serupa juga terjadi pada era 1980-an bagi siapa saja yang ingin membawa pulang sebuah PC.
Menurut analisis historis, situasi pelik tersebut juga merembet pada sektor komoditas bahan bakar. Di sektor teknologi, sempat muncul tudingan bahwa Jepang sengaja membanjiri pasar Amerika Serikat dengan RAM murah yang menjatuhkan harga, sebelum sanksi baru akhirnya mengatrol kembali harga tersebut. Sementara di sektor energi, ketidakstabilan geopolitik dan konflik di wilayah penghasil minyak utama memicu lonjakan harga yang diperparah oleh penurunan permintaan dari dekade sebelumnya.
Dari pengamatan tim redaksi saat ini, harga RAM melonjak terlalu tinggi karena pusat data AI membutuhkan daya komputasi yang jauh lebih besar. Di sisi lain, harga minyak mentah tetap mahal yang sebagian disebabkan oleh konflik berkepanjangan di Iran. Kenaikan biaya produksi RAM ini berimbas langsung pada industri gim, menyebabkan harga konsol dan perangkat keras melambung tinggi.
Krisis tahun 1988 juga tercatat sempat memukul perusahaan gim raksasa seperti Nintendo, hingga memaksa mereka menunda perilisan game "Zelda II: The Adventure of Link" untuk pasar Amerika Serikat. Kendati harus melewati berbagai cobaan dan kesengsaraan tersebut, Nintendo dan ekonomi yang lebih luas terbukti mampu pulih dari krisis RAM dan gas tahun 1980-an, menunjukkan ada pelajaran berharga yang bisa dipetik untuk situasi hari ini.
Pada pertengahan 1980-an, permintaan tinggi terhadap RAM sempat memicu kelebihan produksi karena setiap produsen berlomba mendapatkan keuntungan. Di saat yang sama, pembuat cip dari negara lain, khususnya Jepang, membawa alternatif murah ke pasar Amerika Serikat. Akibat pasokan yang terlalu melimpah dan penurunan harga awal, produsen mulai memangkas produksi cip mereka. Situasi kian rumit saat pemerintah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi pada Jepang guna membatasi impor cip, yang seketika menghancurkan kesiapan pasokan RAM di Amerika Serikat dan memicu lonjakan harga komponen elektronik secara masif.
Memasuki musim panas tahun 1988, harga RAM meroket drastis dari yang semula sekitar $199 menjadi $505 untuk satu megabyte RAM, sementara harga cip 256k DRAM melonjak dari $2.95 menjadi $12.45 hanya dalam hitungan minggu. Lonjakan ini memaksa konsumen menunda pembelian hingga harga kembali turun. Beberapa perusahaan bahkan sama sekali tidak mampu membeli atau menjangkau harga RAM tersebut.
Tekanan serupa kini tengah dihadapi oleh perusahaan modern, salah satunya adalah Valve yang dilaporkan kesulitan mendapatkan pasokan RAM untuk perangkat Steam Machine milik mereka. Di sisi lain, banjir minyak pada akhir 1980-an sempat membawa berkah penurunan harga bagi para komuter, namun di saat yang sama berdampak destruktif bagi perekonomian negara-negara tertentu dan negara bagian penghasil minyak seperti Texas.
Seiring waktu, harga minyak dan gas kembali merangkak naik ketika konflik di Timur Tengah memperketat jalur pasokan. Kedua komoditas ini, RAM dan minyak, terus berada dalam siklus naik-turun yang fluktuatif. Saat ini, pusat data AI menjadi motor utama yang menyebabkan harga barang-barang termasuk RAM melonjak tinggi, di tengah harapan konsumen akan adanya koreksi harga dari overproduksi seperti yang sempat terjadi singkat pada era 80-an.
Melihat kembali apa yang terjadi di masa lalu dapat membantu industri dalam memetakan solusi masa depan. Diskusi ini tengah berkembang pesat di berbagai forum daring, di mana para pengguna memperdebatkan apakah harga RAM bisa kembali normal. Konsensus umum di platform Reddit menilai harga akan terus merangkak naik sampai konsumen mulai berhenti membeli, yang pada akhirnya akan menurunkan tingkat permintaan pasar.
Perdebatan tersebut sangat identik dengan apa yang terjadi selama kelangkaan RAM tahun 1980-an, di mana hukum penawaran dan permintaan memegang peran besar dalam fluktuasi harga. Saat ini, raksasa industri seperti Xbox, PlayStation, Nintendo, dan Valve terpaksa menaikkan harga konsol mereka sebagai dampak langsung dari kelangkaan RAM. Konsol terbaru milik Valve sudah tersedia di pasar, namun konsumen mungkin akan berpikir dua kali untuk membeli Steam Machine pada tahun 2026 ini karena harganya bisa jauh lebih murah ratusan dolar jika tidak terhambat oleh krisis RAM.
Ketika harga semua perangkat elektronik terus meningkat, muncul pertanyaan apakah konsumen akan mencapai titik jenuh dan berhenti membeli sepenuhnya. Pola ini mendekati apa yang terjadi pada tahun 1980-an ketika harga RAM awalnya jatuh. Masalah sebenarnya saat itu bukanlah harga yang super tinggi, melainkan melimpahnya ketersediaan RAM yang memaksa produsen memangkas harga agar produk mereka tetap terjual. Pelajaran nyata dari krisis RAM dan minyak era 1980-an adalah bahwa siklus pasar akan selalu berputar untuk melakukan koreksi mandiri, yang sering kali justru melahirkan inovasi baru seperti kehadiran mobil hemat bahan bakar.