Pekerjaan yang mengandalkan tenaga fisik kini tidak lagi sepenuhnya aman dari risiko otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI). Berdasarkan studi terbaru dari Organization for Economic Co-operation and Development (OECD), pesatnya perkembangan teknologi seperti robotik berbasis AI mulai mengancam berbagai sektor pekerjaan manual yang selama ini dianggap kebal dari dampak otomatisasi.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan laporan lembaga kebijakan publik yang berbasis di Prancis tersebut, para pekerja di bidang konstruksi, ekstraksi, pertanian, perikanan, kehutanan, produksi, hingga transportasi material berpotensi mengalami gangguan akibat perubahan teknologi yang bergerak cepat. "Pekerjaan rutin dan berketerampilan rendah memiliki risiko yang lebih tinggi," ungkap OECD, seraya menambahkan bahwa pekerjaan yang membutuhkan keterampilan kognitif non-rutin, sosial, serta kreatif relatif lebih aman dari ancaman otomatisasi.
Dari pantauan redaksi, studi OECD juga menyoroti peran manajemen yang membutuhkan kemampuan pemecahan masalah secara kreatif masih sulit digantikan oleh mesin. Kendati demikian, profesi di bidang pemrograman, penerjemahan, dan interpretasi justru menghadapi ancaman nyata. Adopsi AI global dilaporkan melonjak drastis dari 7 persen pada tahun 2021 menjadi 20 persen pada tahun 2025, di mana AI generatif mampu menyelesaikan tugas-tugas teknis setidaknya dua kali lebih cepat.
Sementara itu di Amerika Serikat, dampak AI terhadap pasar kerja semakin nyata. Berdasarkan data dari perusahaan outplacement Challenger, Gray & Christmas, AI menjadi penyebab utama pemutusan hubungan kerja (PHK) pada bulan Juni lalu, yang menyumbang 14.029 dari total 45.849 pemangkasan pekerjaan. Sektor teknologi menjadi wilayah yang paling terdampak akibat restrukturisasi dan pengalihan anggaran ke sistem otomatisasi.
Menurut analisis dari konsultan ketenagakerjaan Victor Janulaitis, jajaran eksekutif tingkat atas terus berfokus mengeliminasi posisi manajemen dan staf yang dianggap tidak esensial. Meskipun jumlah pekerjaan IT secara umum menurun, permintaan terhadap tenaga kerja yang memiliki keahlian khusus di bidang AI justru mengalami lonjakan tajam hingga dua kali lipat dalam setahun terakhir.