Berdasarkan pantauan tim redaksi dari laporan industri penerbangan global, maskapai penerbangan asal Jerman yakni Lufthansa memperingatkan bahwa tambahan tagihan bahan bakar jet tahun ini akan melampaui estimasi 1,5 miliar euro atau sekitar Rp25,5 triliun yang sebelumnya telah disampaikan pada bulan Agustus lalu.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Lonjakan biaya operasional ini terjadi seiring dengan eskalasi konflik yang melibatkan Iran yang tak kunjung usai, memicu lonjakan harga minyak dunia secara signifikan dan memukul sektor penerbangan secara menyeluruh, di mana komponen bahan bakar menyumbang 30 hingga 40 persen dari total biaya operasional maskapai.
Menurut CEO Lufthansa Carsten Spohr dalam konferensi pers di Frankfurt, angka beban tambahan sebesar 1,5 miliar euro yang sempat disampaikannya beberapa bulan lalu kemungkinan besar harus direvisi naik pada laporan akhir tahun nanti, meskipun ia belum merinci perkiraan angka pastinya.
"The €1.5 billion I mentioned a few months ago as the additional burden for fuel ... the figure we'll probably have to report at the end of the year will be higher," ungkap Carsten Spohr di hadapan para jurnalis.
Sebelumnya pada Agustus lalu, maskapai ini sempat memperkirakan total biaya bahan bakar tahun 2026 mencapai 8,66 miliar euro, yang sudah mencakup beban tambahan 1,5 miliar euro, dan memperingatkan potensi dampak negatif terhadap perolehan laba perusahaan.
Kendati demikian, dari pantauan pengamat industri, Lufthansa dinilai cukup terlindungi dari volatilitas harga bahan bakar ekstrem berkat strategi lindung nilai atau hedging yang ekstensif, di mana rasio lindung nilai bahan bakar untuk tahun 2026 tercatat berada di angka 86 persen dan sedikit di atas 50 persen untuk tahun 2027.
Di tengah tekanan lonjakan harga energi tersebut, Spohr tetap menegaskan kembali proyeksi laba operasional perusahaan yang berada di kisaran 1,7 miliar euro hingga 2,2 miliar euro, membandingkannya dengan capaian 2 miliar euro pada tahun sebelumnya.
Namun, program transformasi ambisius maskapai yang menargetkan margin operasional antara 8 hingga 10 persen pada periode 2028 hingga 2030 tidak luput dari dampak kenaikan biaya yang meroket di seluruh sektor penerbangan global.
"Our financial performance hasn't yet brought us to our desired results this year, given the headwinds in fuel consumption that everyone else has had to contend with," tambah Spohr menjelaskan tantangan makroekonomi yang dihadapi perseroan.
Di sisi lain, berdasarkan catatan operasional, Lufthansa mencatatkan tren positif berupa lonjakan pemesanan kursi kelas ekonomi premium dan kelas bisnis, sebuah tren menggembirakan yang turut dilaporkan oleh sejumlah kompetitor seperti Air France-KLM, Aer Lingus, dan induk usaha British Airways yaitu IAG.