Bagi sebagian kalangan di industri kripto, bayang-bayang kehadiran komputer kuantum telah menjadi sumber ketakutan eksistensial yang mendalam. Narasi populer menyebutkan bahwa jaringan blockchain publik seperti Bitcoin akan menjadi target utama serangan berbasis kuantum yang berpotensi melenyapkan aset senilai triliunan dolar. Dalam pandangan tersebut, desentralisasi yang menjadi fitur utama blockchain dianggap sebagai kelemahan fatal yang akan menghambat penerapan pembaruan pertahanan.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Namun, pandangan pesimistis tersebut dinilai keliru oleh Kepala Kripto Franklin Templeton, Chris Perkins. Menurutnya, meskipun ancaman kuantum itu nyata dan tidak hanya mengincar kripto melainkan sebagian besar infrastruktur internet global, industri kripto justru memiliki ketahanan dan fleksibilitas yang jauh lebih baik dibandingkan sektor keuangan tradisional. Berdasarkan pengamatan tim redaksi, ekosistem aset digital terbiasa menghadapi berbagai ancaman siber dengan respons yang sangat cepat.
Lebih lanjut, Chris Perkins menjelaskan bahwa sistem keuangan warisan (legacy financial systems) cenderung lambat dalam merespons tantangan teknologi yang mendesak. Sebagai perbandingan, jaringan SWIFT membutuhkan waktu hingga tujuh tahun untuk memodernisasi sistem pesan perbankannya yang berasal dari era 1970-an. Keterlambatan serupa juga terjadi pada pembaruan sistem di Federal Reserve serta Bank of England yang memakan waktu bertahun-tahun lamanya.
Berdasarkan analisis industri, organisasi blockchain terkemuka justru telah bergerak cepat menyusun strategi kesiapan pasca-kuantum jauh sebelum target tahun 2030 yang dicanangkan pemerintah. Ethereum bahkan telah memetakan peta jalan untuk menjadi jaringan yang aman dari kuantum pada tahun 2029. Perkembangan ini melahirkan gelombang startup baru yang membangun infrastruktur dompet digital dan pembayaran berbasis pertahanan kuantum.
Berdasarkan pantauan redaksi, para profesional keuangan kini mulai melihat potensi besar dalam teknologi blockchain dan tokenisasi. Di tengah kesulitan untuk memperbarui infrastruktur keuangan lama yang sudah ketinggalan jaman, beralih ke jaringan blockchain yang lebih tahan terhadap serangan kuantum dinilai menjadi solusi yang jauh lebih efisien bagi masa depan sistem keuangan global.