Harga minyak mentah dunia melanjutkan tren pelemahannya menyusul meningkatnya optimisme tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran. Minyak mentah Brent sebagai acuan global merosot selama enam hari berturut-turut, mencapai level terendah sejak 8 September, serta terkoreksi sekitar 10% dari posisi tertingginya pada bulan ini.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Berdasarkan pantauan redaksi, Brent dan West Texas Intermediate melanjutkan tren penurunan setelah pejabat Amerika Serikat dan Iran menggelar perundingan di New York guna membahas pembukaan kembali Selat Hormuz. Pihak Iran menyampaikan sejumlah syarat, termasuk meminta Amerika Serikat kembali pada Memorandum of Understanding, menghentikan perang di berbagai lini, mengakhiri blokade, serta melepas aset mereka yang dibekukan.
Menurut analisis pasar, eskalasi konflik di Timur Tengah serta dinamika pasokan global masih menjadi perhatian utama para pelaku pasar. Di sisi lain, Goldman Sachs memperkirakan impor minyak Tiongkok akan cenderung moderat dalam beberapa bulan mendatang, yang berpotensi menahan lonjakan harga lebih lanjut di tengah ketatnya pasokan akibat penurunan persediaan minyak mentah.
Dari sudut pandang teknikal, harga minyak mentah dinilai masih memiliki ruang untuk koreksi lanjutan sebelum menemukan titik dukung yang kuat. Brent terpantau masih berada di atas garis tren naik dan rata-rata pergerakan eksponensial 50 hari, sehingga skenario penurunan jangka pendek ke sekitar USD 95 per barel diprediksi dapat menjadi area pantulan harga berikutnya.