Berdasarkan pengamatan dari pergerakan pasar kripto global, Bitcoin kembali menunjukkan ketangguhannya dengan menembus level $86.000 setelah sebelumnya sempat mengalami tekanan akibat kebijakan makroekonomi dan regulasi. Berdasarkan laporan dari riset BitGo, aset kripto utama ini dinilai mampu meredam dampak dari kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) serta kegagalan pengesahan Undang-Undang CLARITY di Senat Amerika Serikat dalam pekan yang sama.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Sebelumnya, Federal Reserve memutuskan untuk menaikkan kisaran target suku bunga federal sebesar 25 basis poin menjadi 3,75% hingga 4,00% pada 16 September. Kebijakan ini diambil setelah melihat proyeksi ekonomi yang menunjukkan suku bunga cenderung bertahan lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama. Menurut riset BitGo, respons pasar tradisional terlihat jelas ketika indeks Dow Jones dan S&P 500 mengalami penurunan, sementara Bitcoin sempat terkoreksi ke kisaran $75.000 sebelum akhirnya berbalik menguat.
Selain sentimen suku bunga, pasar kripto juga sempat diguncang oleh kegagalan Senat Amerika Serikat dalam meloloskan pemungutan suara untuk RUU Digital Asset Market Clarity (CLARITY Act). Pemungutan suara tersebut gagal mencapai ambang batas tiga perlima yang diperlukan untuk melanjutkan proses legislatif, yang sempat memicu penurunan harga BTC ke area pertengahan $75.000. Kendati demikian, tekanan ganda ini gagal memicu aksi jual jangka panjang di kalangan investor.
Dari pantauan redaksi, reli pemulihan Bitcoin di atas $86.000 turut didorong oleh kembalinya arus masuk dana segar pada produk Exchange Traded Fund (ETF) spot Bitcoin di Amerika Serikat. Setelah sempat mengalami arus keluar bersih yang signifikan, dana institusional kembali mencatatkan lonjakan pembelian drastis, dipimpin oleh manajer aset besar seperti BlackRock, ARK, dan Fidelity.
Kepala Riset BitGo, Greg Cipolaro, menyatakan bahwa "Bitcoin gagal merespons aksi jual pada dua katalis negatif dalam minggu yang sama", yang mengindikasikan bahwa perilaku aset kripto ini mulai menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan siklus pengetatan moneter sebelumnya. Meskipun demikian, para analis tetap mengingatkan pelaku pasar untuk mewaspadai potensi suplai tambahan di bursa serta dinamika data ekonomi mendatang menjelang rapat kebijakan The Fed berikutnya.