Berdasarkan pantauan redaksi, pasar saham global kembali melanjutkan tren pelemahan dengan mayoritas indeks utama mencatatkan dinamika negatif di berbagai bursa dunia. Tekanan jual terlihat jelas di bursa saham Amerika Serikat, yang dipicu oleh tingginya imbal hasil obligasi serta sentimen negatif dari para pelaku pasar.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Di Amerika Serikat, indeks Dow Jones mengalami koreksi sebesar 131,59 poin atau 0,26 persen ke level 51.349,92 poin. Penurunan serupa juga dialami oleh indeks S&P 500 yang melemah 12,85 poin atau 0,17 persen menjadi 7.670,84 poin, sementara Nasdaq Composite turun 22,84 poin atau 0,09 persen ke posisi 26.797,54 poin.
Sementara itu, dinamika bursa di kawasan Eropa terpantau bervariasi cenderung tertekan. Indeks FTSE 100 Inggris terkoreksi 0,45 persen ke level 10.636,71 poin, CAC 40 Prancis turun 0,53 persen menjadi 8.035,87 poin, dan IBEX 35 Spanyol melemah 0,42 persen. Di sisi lain, beberapa bursa seperti Euro Stoxx 50 dan DAX Jerman justru mencatatkan sedikit penguatan.
Kawasan Asia-Pasifik menunjukkan tren yang sebagian besar positif di tengah tekanan global. Indeks Nikkei 225 di Jepang melonjak 1,59 persen ke level 66.522,35 poin, dan indeks S&P/ASX 200 di Australia menguat 0,87 persen. Namun, pelemahan tipis masih terjadi di Hang Seng Hong Kong yang turun 0,11 persen.
Menurut pengamatan tim redaksi, salah satu pemicu utama pergerakan negatif ini adalah imbal hasil obligasi global yang bertahan di level tinggi, di mana imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat bertenor 10 tahun mendekati level tertingginya sejak 2007. "Penurunan kepercayaan konsumen Amerika Serikat ke level terendah dalam lebih dari 12 tahun turut memberikan tekanan besar bagi sentimen investor," ujar para pengamat pasar.