Berdasarkan laporan pasar keuangan, indeks-indeks ekuitas utama di bursa saham Amerika Serikat kembali mengalami tekanan jual dan ditutup melemah. Penurunan ini dipicu oleh pergerakan harga minyak mentah yang merosot serta imbal hasil obligasi pemerintah yang terus mencerminkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi, biaya energi, serta tingginya utang pemerintah.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak informasi teknologi menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Dari pantauan redaksi, indeks teknologi Nasdaq Composite terkoreksi 0,09 persen ke level 26.797, indeks S&P 500 melemah 0,8 persen menjadi 7.683, dan indeks blue-chip Dow Jones Industrial Average turun 0,7 persen ke posisi 51.481. Tekanan pasar ini terjadi seiring sentimen investor yang berhati-hati menghadapi arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat.
Menurut analisis dari pakar pasar, imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang tenor 30 tahun mencatatkan kenaikan untuk sesi perdagangan keenam berturut-turut, naik 2,5 basis poin ke level 5,587 persen. Kenaikan tersebut menyentuh level tertinggi sejak tahun 2002, yang turut memicu kekhawatiran biaya pinjaman yang lebih tinggi bagi perekonomian.
Sementara itu, saham Fair Isaac Corporation atau FICO mengalami kejatuhan signifikan sebesar 26,6 persen dan menjadi saham dengan kinerja terburuk di indeks S&P 500. Koreksi tajam ini terjadi setelah Direktur Perumahan Federal Amerika Serikat, Bill Pulte, mengumumkan rencana reformasi harga dan pembukaan persaingan pada pasar hipotek yang selama ini dikuasai oleh FICO.